
Oleh: Riswadi, M.Pd.
MANUSIA sejatinya berasal dari Allah dan akan kembali menuju Allah. Kapan waktunya, dimana tempatnya dan sebabnya apa, tentu manusia tidak memiliki otoritas akan hal tersebut. Perjalanan menuju Allah SWT. jalannya terjal dan berbukit, maka perlu mempersiapkan bekal yang cukup untuk kembali kepada-Nya. Jangan membawa beban yang berat sehingga menyulitkan kehidupan diakhirat. Karena sejatinya kehidupan yang abadi adalah kehidupan di akhirat.
Namun, manusia acapkali lupa diri akan tujuan perjalanan yang semestinya, sering tergoda dengan gemerlapnya dunia dan nikmatnya kehidupan. Bahkan kufur nikmat atas pemberian Allah SWT. seakan semua yang dimiliki merupakan atas jerih payah pribadi masing-masing, sehingga melupakan Sang Pencipta. Oleh karena itu, Allah mengingatkan dalam Al Qur’an, “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” (QS Az-Zumar:54).
Dalam momentum Isra’ Mi’raj ini, kita mengenang perjalanan manusia menuju Allah SWT yakni Pertama, perjalanan manusia pilihan baginda Rasulullah SAW. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sampai dengan Sidratul Muntaha dalam rangka untuk mendapatkan perintah Sholat lima waktu yang wajib dilaksanakan oleh orang Muslim.
Kedua, Perjalanan manusia menuju Allah SWT. yang dikenal dengan Sholat. Assholaatu Mi’rajul Mukminin. (Sholat merupakan mi’raj nya orang Mukmin). Hal inilah yang menjadi bahasan bahwa manusia sejatinya wajib untuk berdialog dan berdoa kepada Allah melalui ritual agama dan salah satunya adalah sholat lima waktu termasuk ibadah lainnya.
Kemudian, Ketiga, Perjalanan yang dilakukan oleh kaum sufi yang secara khusus dilakukannya. Manusia biasa sulit untuk meniru karena kebersihan hati dan kesucian jiwa dalam mengabdi dan menyembah Allah SWT.
Perjalanan manusia menuju Allah senantiasa dilakukan persiapan yang matang dan penuh dengan niat yang tulus. Bukti kecintaan kita kepada Allah harus kita wujudkan dalam keseharian sehingga apapun yang dilakukan bernilai ibadah disisi Allah SWT.
Allah dan Rasulullah mengingatkan dan menegaskan, manusia pada hakikatnya tengah berjalan menuju Allah. Dunia, menurut Rasulullah, sekadar tempat berteduh, persinggahan sementara, sebelum lanjut ke tujuan akhir: Allah. Rasulullah bersabda, "Bagaimana aku bisa mencintai dunia? Sementara aku di dunia ini tak lain, kecuali seperti seorang pengendara yang mencari tempat teduh di bawah pohon untuk beristirahat sejenak, lalu meninggalkannya." (HR at-Tirmidzi).
Dikisahkan, Jabir bin Abdullah pernah bersama Rasulullah. Tiba-tiba, datang laki-laki berwajah cerah, berambut rapi, berpakaian serbaputih. Kemudian, ia berkata kepada Rasulullah, "Salam, wahai Rasulullah. Apakah arti dunia ini?" Beliau menjawab, "Seperti impian orang yang tidur."
Ia bertanya lagi, "Apakah surga itu?" Beliau menjawab, "Sebagai ganti dunia bagi mereka yang mencarinya." Ia kembali bertanya, "Siapa sebaik-baik manusia?" Beliau menjawab, "Orang yang menaati Allah."
Ia bertanya lagi, Bagaimana sikap yang baik di dunia ini? Beliau menjawab, "Berkemas-kemaslah seperti orang yang mengejar kafilah". Ia bertanya lagi, "Berapa jarak antara dunia dan akhirat?" Beliau menjawab, "Sekejap mata." Setelah itu, ia pun pergi dan tidak kelihatan lagi. Rasulullah bersabda kepada para sahabat, "Laki-laki itu adalah Jibril. Ia datang untuk menjauhkanmu dari dunia dan mencintai akhirat." (HR al-Hakim).
Allah adalah tujuan sesungguhnya perjalanan manusia. Kesadaran ini akan menjadikan perjalanan manusia lebih berarti dengan banyak beribadah dan beramal saleh. Berarti tidak hanya bagi dirinya, tapi juga orang lain. Ia akan berjalan di muka bumi dengan menebarkan kebaikan kepada apa pun.
Sehingga apapun yang dilakukan hanya berserah diri dan dipersembahkan kepada Allah SWT dengan niat untuk beribadah di sisi-Nya. Sehingga dapat mewjudkan sosok manusia yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Walaupun sejatinya manusia tempatnya salah dan lupa. Kalau manusia tidak pernah salah, mustahil karena bisa seperti malaikat, kemudian kalau manusia salah terus, maka akan seperti syaithan.
Tak ada manusia yang sempurna. Dalam perjalanan di dunia akan ada kesalahan dan kekeliruan. Tapi, seperti kata Nabi, sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertobat dan memperbaiki diri. Selain itu, Allah juga Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Dia juga Maha Penyayang. Dia akan selalu menyeru hamba-Nya, mengingatkannya untuk kembali kepada-Nya dengan jiwa yang tenang, "Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS al-Fajr [89]: 27-30).
Imam Hasan al-Bashri mengatakan, "Kembalilah kamu kepada balasan Tuhanmu dan kepada pemuliaan-Nya dalam keadaan ridha dengan apa yang Allah sediakan untukmu dan Allah pun ridha terhadap dirimu.
Imam al-Baghawi dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, Wahai jiwa yang tenang terhadap dunia, kembalilah kepada Allah dengan meninggalkan dunia tersebut. Kembali kepada Allah dengan menempuh jalan menuju akhirat. Kembali kepada Allah bukan sekadar pulang tanpa membawa apa-apa, melainkan kembali dengan bekal amal saleh di dunia. Wallahu a'lam.
Riswadi, M.Pd., Sekretaris PW ISNU Kalimantan Timur Tinggal di Loa Janan Kutai Kartanegara.

Orang biasa yang sedang belajar menulis dengan segala keterbatasan. Karena menulis adalah cara kita berbicara dengan zaman. Untuk bertukar pikiran, silahkan hubungi saya melalui halaman Kontak atau melalui Facebook, Twitter, Google+, Youtube, Flickr dan Instagram.
Oleh: Riswadi (Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19) Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya Jatuh Cinta, dan cara mengungkapkan perasaan cinta kepada yang dikasihi pun juga beragam cara. Sebelum adanya teknologi ... [Baca Selengkapnya]

Oleh: Riswadi, M.Pd.
MANUSIA sejatinya berasal dari Allah dan akan kembali menuju Allah. Kapan waktunya, dimana tempatnya dan sebabnya apa, tentu manusia tidak memiliki otoritas akan hal tersebut. Perjalanan menuju Allah SWT. jalannya terjal dan berbukit, maka perlu mempersiapkan bekal yang cukup untuk kembali kepada-Nya. Jangan membawa beban yang berat sehingga menyulitkan kehidupan diakhirat. Karena sejatinya kehidupan yang abadi adalah kehidupan di akhirat.
Namun, manusia acapkali lupa diri akan tujuan perjalanan yang semestinya, sering tergoda dengan gemerlapnya dunia dan nikmatnya kehidupan. Bahkan kufur nikmat atas pemberian Allah SWT. seakan semua yang dimiliki merupakan atas jerih payah pribadi masing-masing, sehingga melupakan Sang Pencipta. Oleh karena itu, Allah mengingatkan dalam Al Qur’an, “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” (QS Az-Zumar:54).
Dalam momentum Isra’ Mi’raj ini, kita mengenang perjalanan manusia menuju Allah SWT yakni Pertama, perjalanan manusia pilihan baginda Rasulullah SAW. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sampai dengan Sidratul Muntaha dalam rangka untuk mendapatkan perintah Sholat lima waktu yang wajib dilaksanakan oleh orang Muslim.
Kedua, Perjalanan manusia menuju Allah SWT. yang dikenal dengan Sholat. Assholaatu Mi’rajul Mukminin. (Sholat merupakan mi’raj nya orang Mukmin). Hal inilah yang menjadi bahasan bahwa manusia sejatinya wajib untuk berdialog dan berdoa kepada Allah melalui ritual agama dan salah satunya adalah sholat lima waktu termasuk ibadah lainnya.
Kemudian, Ketiga, Perjalanan yang dilakukan oleh kaum sufi yang secara khusus dilakukannya. Manusia biasa sulit untuk meniru karena kebersihan hati dan kesucian jiwa dalam mengabdi dan menyembah Allah SWT.
Perjalanan manusia menuju Allah senantiasa dilakukan persiapan yang matang dan penuh dengan niat yang tulus. Bukti kecintaan kita kepada Allah harus kita wujudkan dalam keseharian sehingga apapun yang dilakukan bernilai ibadah disisi Allah SWT.
Allah dan Rasulullah mengingatkan dan menegaskan, manusia pada hakikatnya tengah berjalan menuju Allah. Dunia, menurut Rasulullah, sekadar tempat berteduh, persinggahan sementara, sebelum lanjut ke tujuan akhir: Allah. Rasulullah bersabda, "Bagaimana aku bisa mencintai dunia? Sementara aku di dunia ini tak lain, kecuali seperti seorang pengendara yang mencari tempat teduh di bawah pohon untuk beristirahat sejenak, lalu meninggalkannya." (HR at-Tirmidzi).
Dikisahkan, Jabir bin Abdullah pernah bersama Rasulullah. Tiba-tiba, datang laki-laki berwajah cerah, berambut rapi, berpakaian serbaputih. Kemudian, ia berkata kepada Rasulullah, "Salam, wahai Rasulullah. Apakah arti dunia ini?" Beliau menjawab, "Seperti impian orang yang tidur."
Ia bertanya lagi, "Apakah surga itu?" Beliau menjawab, "Sebagai ganti dunia bagi mereka yang mencarinya." Ia kembali bertanya, "Siapa sebaik-baik manusia?" Beliau menjawab, "Orang yang menaati Allah."
Ia bertanya lagi, Bagaimana sikap yang baik di dunia ini? Beliau menjawab, "Berkemas-kemaslah seperti orang yang mengejar kafilah". Ia bertanya lagi, "Berapa jarak antara dunia dan akhirat?" Beliau menjawab, "Sekejap mata." Setelah itu, ia pun pergi dan tidak kelihatan lagi. Rasulullah bersabda kepada para sahabat, "Laki-laki itu adalah Jibril. Ia datang untuk menjauhkanmu dari dunia dan mencintai akhirat." (HR al-Hakim).
Allah adalah tujuan sesungguhnya perjalanan manusia. Kesadaran ini akan menjadikan perjalanan manusia lebih berarti dengan banyak beribadah dan beramal saleh. Berarti tidak hanya bagi dirinya, tapi juga orang lain. Ia akan berjalan di muka bumi dengan menebarkan kebaikan kepada apa pun.
Sehingga apapun yang dilakukan hanya berserah diri dan dipersembahkan kepada Allah SWT dengan niat untuk beribadah di sisi-Nya. Sehingga dapat mewjudkan sosok manusia yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Walaupun sejatinya manusia tempatnya salah dan lupa. Kalau manusia tidak pernah salah, mustahil karena bisa seperti malaikat, kemudian kalau manusia salah terus, maka akan seperti syaithan.
Tak ada manusia yang sempurna. Dalam perjalanan di dunia akan ada kesalahan dan kekeliruan. Tapi, seperti kata Nabi, sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertobat dan memperbaiki diri. Selain itu, Allah juga Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Dia juga Maha Penyayang. Dia akan selalu menyeru hamba-Nya, mengingatkannya untuk kembali kepada-Nya dengan jiwa yang tenang, "Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS al-Fajr [89]: 27-30).
Imam Hasan al-Bashri mengatakan, "Kembalilah kamu kepada balasan Tuhanmu dan kepada pemuliaan-Nya dalam keadaan ridha dengan apa yang Allah sediakan untukmu dan Allah pun ridha terhadap dirimu.
Imam al-Baghawi dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, Wahai jiwa yang tenang terhadap dunia, kembalilah kepada Allah dengan meninggalkan dunia tersebut. Kembali kepada Allah dengan menempuh jalan menuju akhirat. Kembali kepada Allah bukan sekadar pulang tanpa membawa apa-apa, melainkan kembali dengan bekal amal saleh di dunia. Wallahu a'lam.
Riswadi, M.Pd., Sekretaris PW ISNU Kalimantan Timur Tinggal di Loa Janan Kutai Kartanegara.

Orang biasa yang sedang belajar menulis dengan segala keterbatasan. Karena menulis adalah cara kita berbicara dengan zaman. Untuk bertukar pikiran, silahkan hubungi saya melalui halaman Kontak atau melalui Facebook, Twitter, Google+, Youtube, Flickr dan Instagram.
Belum ada komentar.
Oleh: Riswadi (Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19) Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya Jatuh Cinta, dan cara mengungkapkan perasaan cinta kepada yang dikasihi pun juga beragam cara. Sebelum adanya teknologi ... [Baca Selengkapnya]
Comments
Belum ada komentar.