riswadi banner

NASIHAT DAN KRITIK BAGI PENGUASA


By Riswadi on 2025-08-12 11:53:57




NASIHAT DAN KRITIK BAGI PENGUASA

Oleh: Riswadi, M.Pd.*

DALAM waktu beberapa saat lagi, tepatnya tanggal 26 Februari 2021 akan diadakan pelantikan Kepala Daerah hasil Pemilukada tahun 2020.  Kebahagiaan dan euphoria bagi pemenang serta para pendukung pasti terlihat dalam acara pelantikan nantinya. Namun jangan hanya bangga menjadi penguasa, tetapi beban berat sudah didepan mata dengan segudang permasalahan.

Hanya saja adakalanya para penguasa acapkali menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain. Menggunakan “aji mumpung” sehingga melenakan hati dan pikiran, yang sejatinya penguasa merupakan amanah yang harus dijaga demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.

Kekuasaan kerap kali membutakan mata serta menulikan telinga dari nasihat serta kritik yang dialamatkan terhadap pemegangnya. Dengan kekuasaan, kebenaran dapat dimanipulasi demi melanggengkan kekuasaan.      

Teringat warisan ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga, “ Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji- aji, Sugih Tanpo Bondho” yang artinya Berjuang tanpa butuh bawa massa; Menang tanpa merendahkan ataupun mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan.

Dengan kekuasaan pula, kebenaran dapat dibungkam apabila itu membahayakan serta mengecam kekuasaan. Sementara itu, bagi Islam, nasihat serta kritik sangat dibutuhkan untuk siapa saja, terlebih untuk penguasa yang sudah diberi amanah buat mengurus rakyat.

Nasihat serta kritik amat dibutuhkan. Pertama, tidak terdapat manusia yang sempurna. Tidak terdapat manusia yang senantiasa benar. Manusia mempunyai akal serta hati, 2 elemen berarti yang membuatnya jadi makhluk istimewa dibandingkan binatang.

Tetapi, manusia pula dikaruniai hawa nafsu yang senantiasa menekan akal serta mendorongnya sampai terjerumus dalam kesalahan, keburukan, serta kejahatan. Saat hawa nafsu sukses menguasai akal serta hati, sikap yang timbul merupakan penyimpangan.

Dalam Alquran disebutkan, Allah berfirman kepada Nabi Dawud, “Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.” (QS Shad [38]: 26).

Nabi bersabda, “Tiga hal yang merusak: kebakhilan yang diikuti, hawa nafsu yang ditaati, dan membangga-banggakan diri.” (HR ath-Thabrani)

Kedua, kekuasaan dalam Islam merupakan amanah yang tidak boleh dikhianati. Seorang dinaikan jadi penguasa, melalui sistem apa saja, sejatinya memikul beban serta tanggung jawab yang besar serta berat. Serta, amanah itu mesti dipertanggungjawabkan terhadap orang yang mengangkatnya.

Dia tidak boleh mementingkan diri sendiri, namun wajib mendahulukan kepentingan universal secara adil, tanpa pilih kasih. Sebagaimana dikatakan Nabi,“ Seseorang imam merupakan pemimpin untuk rakyatnya serta hendak dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dia pimpin.”( HR al- Bukhari serta Muslim)

Umar bin al- Khathab, salah satu Sahabat Nabi yang diketahui berkarakter keras, tegas, serta berani, kala jadi Amirul Mukminin (pengurus kalangan mukmin) sangat menyadari posisinya.

Walaupun keras, tidak membuatnya jadi otoriter serta sombong. Malah, dalam posisi yang besar itu, hatinya jadi lembut, kepeduliannya terhadap rakyatnya sangat besar, gaya hidupnya jadi begitu simpel, kerap mendatangi rakyatnya pada malam hari buat melihat langsung keadaan yang sesungguhnya.

Lebih dari itu, dia tidak antikritik, malah bersyukur serta lapang dada apabila terdapat orang yang berani mengkritiknya, sepedas serta sengeri apa juga, apabila memanglah itu benar serta baik.

Nabi berkata,“ Agama merupakan nasihat.”(HR Muslim). Agama menasihati siapa saja, baik itu orang biasa ataupun penguasa yang diberi amanat buat menetapi kebenaran serta keadilan, tidak melenceng serta berkhianat.

Al- Khathabi, sebagaimana disebutkan dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wa al- Hikam,  berkata,“ Nasihat merupakan perkataan yang tujuannya merupakan buat kebaikan untuk orang yang dituju dari nasihat itu.”

Nasihat serta kritik sejatinya buat kebaikan bersama, spesialnya untuk orang yang dinasihati ataupun dikritik itu supaya tidak melalaikan tugas serta tanggung jawabnya yang apabila tidak dilakukan akan membahayakan banyak orang.

Mudah-mudahan para penguasa yang akan dilantik dan saat ini masih menjadi penguasa diberbagai posisi dapat merenungkan dan mengimplementasikan nasihat agama, agar dapat memimpin dengan hati yang berlandasakan ajaran agama. Nasihat dan Kritik sebagai cambuk dan spirit dalam melaksanakan amanah yang diemban, semoga Allah SWT. membimbing dalam menjalankan kepemimpinan para penguasa. Amin. SEMOGA.

Riswadi, M.Pd., Tinggal di Desa Purwajaya Kec. Loa Janan Kutai Kartanegara.

Sumber gambar dari: https://www.datanews.id/



252 Total Views



Filed Under: OPINI








RISWADI

Orang biasa yang sedang belajar menulis dengan segala keterbatasan. Karena menulis adalah cara kita berbicara dengan zaman. Untuk bertukar pikiran, silahkan hubungi saya melalui halaman Kontak atau melalui Facebook, Twitter, Google+, Youtube, Flickr dan Instagram.




Comments


Belum ada komentar.






Leave a Reply


Your email address will not be published. Required fields are marked *


Rekomendasi Artikel

SURAT CINTA DARI TUHAN Antara Cinta, Takut dan Malu Kepada-Nya

Oleh: Riswadi (Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19) Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya Jatuh Cinta, dan cara mengungkapkan perasaan cinta kepada yang dikasihi pun juga beragam cara. Sebelum adanya teknologi ... [Baca Selengkapnya]

Silahkan daftarkan e-mail Anda untuk berlangganan artikel terbaru.

NASIHAT DAN KRITIK BAGI PENGUASA


By Riswadi on 2025-08-12 11:53:57




NASIHAT DAN KRITIK BAGI PENGUASA

Oleh: Riswadi, M.Pd.*

DALAM waktu beberapa saat lagi, tepatnya tanggal 26 Februari 2021 akan diadakan pelantikan Kepala Daerah hasil Pemilukada tahun 2020.  Kebahagiaan dan euphoria bagi pemenang serta para pendukung pasti terlihat dalam acara pelantikan nantinya. Namun jangan hanya bangga menjadi penguasa, tetapi beban berat sudah didepan mata dengan segudang permasalahan.

Hanya saja adakalanya para penguasa acapkali menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain. Menggunakan “aji mumpung” sehingga melenakan hati dan pikiran, yang sejatinya penguasa merupakan amanah yang harus dijaga demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.

Kekuasaan kerap kali membutakan mata serta menulikan telinga dari nasihat serta kritik yang dialamatkan terhadap pemegangnya. Dengan kekuasaan, kebenaran dapat dimanipulasi demi melanggengkan kekuasaan.      

Teringat warisan ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga, “ Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji- aji, Sugih Tanpo Bondho” yang artinya Berjuang tanpa butuh bawa massa; Menang tanpa merendahkan ataupun mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan.

Dengan kekuasaan pula, kebenaran dapat dibungkam apabila itu membahayakan serta mengecam kekuasaan. Sementara itu, bagi Islam, nasihat serta kritik sangat dibutuhkan untuk siapa saja, terlebih untuk penguasa yang sudah diberi amanah buat mengurus rakyat.

Nasihat serta kritik amat dibutuhkan. Pertama, tidak terdapat manusia yang sempurna. Tidak terdapat manusia yang senantiasa benar. Manusia mempunyai akal serta hati, 2 elemen berarti yang membuatnya jadi makhluk istimewa dibandingkan binatang.

Tetapi, manusia pula dikaruniai hawa nafsu yang senantiasa menekan akal serta mendorongnya sampai terjerumus dalam kesalahan, keburukan, serta kejahatan. Saat hawa nafsu sukses menguasai akal serta hati, sikap yang timbul merupakan penyimpangan.

Dalam Alquran disebutkan, Allah berfirman kepada Nabi Dawud, “Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.” (QS Shad [38]: 26).

Nabi bersabda, “Tiga hal yang merusak: kebakhilan yang diikuti, hawa nafsu yang ditaati, dan membangga-banggakan diri.” (HR ath-Thabrani)

Kedua, kekuasaan dalam Islam merupakan amanah yang tidak boleh dikhianati. Seorang dinaikan jadi penguasa, melalui sistem apa saja, sejatinya memikul beban serta tanggung jawab yang besar serta berat. Serta, amanah itu mesti dipertanggungjawabkan terhadap orang yang mengangkatnya.

Dia tidak boleh mementingkan diri sendiri, namun wajib mendahulukan kepentingan universal secara adil, tanpa pilih kasih. Sebagaimana dikatakan Nabi,“ Seseorang imam merupakan pemimpin untuk rakyatnya serta hendak dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dia pimpin.”( HR al- Bukhari serta Muslim)

Umar bin al- Khathab, salah satu Sahabat Nabi yang diketahui berkarakter keras, tegas, serta berani, kala jadi Amirul Mukminin (pengurus kalangan mukmin) sangat menyadari posisinya.

Walaupun keras, tidak membuatnya jadi otoriter serta sombong. Malah, dalam posisi yang besar itu, hatinya jadi lembut, kepeduliannya terhadap rakyatnya sangat besar, gaya hidupnya jadi begitu simpel, kerap mendatangi rakyatnya pada malam hari buat melihat langsung keadaan yang sesungguhnya.

Lebih dari itu, dia tidak antikritik, malah bersyukur serta lapang dada apabila terdapat orang yang berani mengkritiknya, sepedas serta sengeri apa juga, apabila memanglah itu benar serta baik.

Nabi berkata,“ Agama merupakan nasihat.”(HR Muslim). Agama menasihati siapa saja, baik itu orang biasa ataupun penguasa yang diberi amanat buat menetapi kebenaran serta keadilan, tidak melenceng serta berkhianat.

Al- Khathabi, sebagaimana disebutkan dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wa al- Hikam,  berkata,“ Nasihat merupakan perkataan yang tujuannya merupakan buat kebaikan untuk orang yang dituju dari nasihat itu.”

Nasihat serta kritik sejatinya buat kebaikan bersama, spesialnya untuk orang yang dinasihati ataupun dikritik itu supaya tidak melalaikan tugas serta tanggung jawabnya yang apabila tidak dilakukan akan membahayakan banyak orang.

Mudah-mudahan para penguasa yang akan dilantik dan saat ini masih menjadi penguasa diberbagai posisi dapat merenungkan dan mengimplementasikan nasihat agama, agar dapat memimpin dengan hati yang berlandasakan ajaran agama. Nasihat dan Kritik sebagai cambuk dan spirit dalam melaksanakan amanah yang diemban, semoga Allah SWT. membimbing dalam menjalankan kepemimpinan para penguasa. Amin. SEMOGA.

Riswadi, M.Pd., Tinggal di Desa Purwajaya Kec. Loa Janan Kutai Kartanegara.

Sumber gambar dari: https://www.datanews.id/



252 Total Views



Filed Under: OPINI








RISWADI

Orang biasa yang sedang belajar menulis dengan segala keterbatasan. Karena menulis adalah cara kita berbicara dengan zaman. Untuk bertukar pikiran, silahkan hubungi saya melalui halaman Kontak atau melalui Facebook, Twitter, Google+, Youtube, Flickr dan Instagram.




Comments


Belum ada komentar.






Leave a Reply


Your email address will not be published. Required fields are marked *


Rekomendasi Artikel

SURAT CINTA DARI TUHAN Antara Cinta, Takut dan Malu Kepada-Nya

Oleh: Riswadi (Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19) Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya Jatuh Cinta, dan cara mengungkapkan perasaan cinta kepada yang dikasihi pun juga beragam cara. Sebelum adanya teknologi ... [Baca Selengkapnya]

Silahkan daftarkan e-mail Anda untuk berlangganan artikel terbaru.