
Oleh: Riswadi, M.Pd.
Pilkada serentak tinggal menghitung hari, apakah masyarakat sudah dapat menentukan pilihan?. Tergantung hasil penelusuran terhadap rekam jejak para calon pemimpin yang saat ini maju dalam pesta demokrasi lima tahunan. Dan keberhasilan dalam kampanye yang dilakukan oleh pasangan calon dan tim kampanye. Lantas, adakah pasangan calon yang memiliki karakter kepemimpinan ala Nabi?. Mustahil sepertinya.
Dalam al Qur’an surah al-Ahzab ayat 21. Nabi adalah teladan ( uswatun hasanah ) di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kepemimpinan. Apalagi, Nabi Muhammad SAW tidak saja sukses menjadi pemimpin agama, tapi juga pemimpin politik.
Karakter kepemimpinan ala Nabi atau istilah lain disebut kepemimpinan profetik. Kepemimpinan ini menerapkan karakter para nabi, terutama Nabi Muhammad SAW. Setiap nabi adalah pemimpin. Nabi Muhammad SAW tidak saja pemimpin di dunia akan tetapi juga di akhirat, karena ia memperoleh hak untuk memberi syafaat. Sabdanya: "Di hari kiamat nanti, aku adalah pemimpin umat manusia seluruhnya ...” (HR Bukhari Muslim).
Nabi berhasil membangun peradaban di Madinah dan Makkah. Idealnya kepemimpinan profetik ini yang menjadi inspirasi bagi calon kepala darerah yang saat ini berkontestasi dalam pilkada serentak.
Lantas seperti apa karakter kepemimpinan ala Nabi?
Setidaknya ada tiga prinsip penerapan karakter kepemimpinan ala Nabi. Pertama, meneladani empat sifat yang wajib menjadi karakter utama Nabi Muhammad SAW, yaitu sidik, amanah, tabligh, dan fatanah.
Seorang pemimpin harus jujur, karena kejujuran akan menghantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan akan menghantarkan kepada surga-Nya Allah SWT.
Pemimpin harus memiliki integritas yang tinggi. Antara pikiran, ucapan, dan perbuatan harus selaras. Dengan sifat sidik, ia menolak segala bentuk kebohongan. Dan berusaha seoptimal mungkin untuk mensejahterakan rakyat demi kemakmuran seperti janji yang telah diucapkan saat kampanye.
Sifat amanah, jabatan sebagai amanah rakyat yang harus dipikul dan pertanggungjawabannya juga kepada Allah SWT. Sifat tabligh menuntut pemimpin harus komunikatif terhadap rakyatnya baik dalam menanggapi keluhan rakyat. Adapun sifat fathanah, menuntut setiap pemimpin cerdas menyelesaikan masalah dan arif melahirkan kebijakan.
Kecerdasan rohani juga harus dimiliki oleh pemimpin, sehingga tetap memiliki koneksi yang kuat dengan Allah SWT. Dengan begitu, kebijakannya selalu disandarkan pada Allah SWT.
Kedua, meneladani kualitas kepemimpinan Nabi Muhammad SAW seperti yang benar-benar dalam surah at-Taubah ayat 128. Berat dirasakan oleh Nabi penderitaan orang lain ( azizun alaihi ma anittum ). Inilah pemimpin sejati yang memiliki kepekaan atas kesulitan rakyatnya ( sense of crisis ).
Nabi juga amat sangat berkeinginan agar umatnya aman, sentosa, dan selamat dunia akhirat ( harishun 'alaikum ). Karakter kepemimpinan ala nabi memiliki semangat yang Tinggi untuk mewujudkan rakyatnya berprestasi sehingga bangsanya meraih kemajuan gemilang (rasa prestasi ).
Nabi SAW juga memiliki sifat kasih sayang ( raufunrahim ) terhadap umatnya, bahkan orang-orang yang memusuhinya. Ia tidak pernah menginginkan kebinasaan ditimpakan pada orang lain, tidak pernah menyerang dalam mempertahankan diri dari musuh dalam peperangan.
Ketiga, meneladani akhlak Nabi SAW yang mencintai, mengamalkan dan mengajarkan Al qur’an. Nabi SAW memiliki akhlak yang agung (al-Qalam ayat 4). Ketika A'isyah ditanya tentang akhlak Nabi, jawabnya, "kana khuluqu al-Qur’an", akhlak Nabi itu adalah Al qur’an.
Maka, karakter kepemimpinan ala Nabi akan dimiliki setiap pemimpin yang mau mengkaji Al qur’an untuk ditadabburi (baca: dibaca, dipahami, dihayati, dan diamalkan). Malah, umat Islam yang memperoleh amanah sebagai pemimpin, tapi enggan atau jauh dari Al qur’an, niscaya hatinya akan keras, tertutup dari cahaya dan pertolongan Allah SWT. Pada dasarnya, menjalankan amanah sebagai pemimpin butuh pertolongan-Nya. Wallahu a'lam .
Riswadi, M.Pd., merupakan Sekretaris PW. ISNU Kaltim tinggal di Desa Purwajaya Loa Janan Kutai Kartanegara,
Sumber gambar dari Harakatuna.com

Orang biasa yang sedang belajar menulis dengan segala keterbatasan. Karena menulis adalah cara kita berbicara dengan zaman. Untuk bertukar pikiran, silahkan hubungi saya melalui halaman Kontak atau melalui Facebook, Twitter, Google+, Youtube, Flickr dan Instagram.
Oleh: Riswadi (Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19) Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya Jatuh Cinta, dan cara mengungkapkan perasaan cinta kepada yang dikasihi pun juga beragam cara. Sebelum adanya teknologi ... [Baca Selengkapnya]

Oleh: Riswadi, M.Pd.
Pilkada serentak tinggal menghitung hari, apakah masyarakat sudah dapat menentukan pilihan?. Tergantung hasil penelusuran terhadap rekam jejak para calon pemimpin yang saat ini maju dalam pesta demokrasi lima tahunan. Dan keberhasilan dalam kampanye yang dilakukan oleh pasangan calon dan tim kampanye. Lantas, adakah pasangan calon yang memiliki karakter kepemimpinan ala Nabi?. Mustahil sepertinya.
Dalam al Qur’an surah al-Ahzab ayat 21. Nabi adalah teladan ( uswatun hasanah ) di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kepemimpinan. Apalagi, Nabi Muhammad SAW tidak saja sukses menjadi pemimpin agama, tapi juga pemimpin politik.
Karakter kepemimpinan ala Nabi atau istilah lain disebut kepemimpinan profetik. Kepemimpinan ini menerapkan karakter para nabi, terutama Nabi Muhammad SAW. Setiap nabi adalah pemimpin. Nabi Muhammad SAW tidak saja pemimpin di dunia akan tetapi juga di akhirat, karena ia memperoleh hak untuk memberi syafaat. Sabdanya: "Di hari kiamat nanti, aku adalah pemimpin umat manusia seluruhnya ...” (HR Bukhari Muslim).
Nabi berhasil membangun peradaban di Madinah dan Makkah. Idealnya kepemimpinan profetik ini yang menjadi inspirasi bagi calon kepala darerah yang saat ini berkontestasi dalam pilkada serentak.
Lantas seperti apa karakter kepemimpinan ala Nabi?
Setidaknya ada tiga prinsip penerapan karakter kepemimpinan ala Nabi. Pertama, meneladani empat sifat yang wajib menjadi karakter utama Nabi Muhammad SAW, yaitu sidik, amanah, tabligh, dan fatanah.
Seorang pemimpin harus jujur, karena kejujuran akan menghantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan akan menghantarkan kepada surga-Nya Allah SWT.
Pemimpin harus memiliki integritas yang tinggi. Antara pikiran, ucapan, dan perbuatan harus selaras. Dengan sifat sidik, ia menolak segala bentuk kebohongan. Dan berusaha seoptimal mungkin untuk mensejahterakan rakyat demi kemakmuran seperti janji yang telah diucapkan saat kampanye.
Sifat amanah, jabatan sebagai amanah rakyat yang harus dipikul dan pertanggungjawabannya juga kepada Allah SWT. Sifat tabligh menuntut pemimpin harus komunikatif terhadap rakyatnya baik dalam menanggapi keluhan rakyat. Adapun sifat fathanah, menuntut setiap pemimpin cerdas menyelesaikan masalah dan arif melahirkan kebijakan.
Kecerdasan rohani juga harus dimiliki oleh pemimpin, sehingga tetap memiliki koneksi yang kuat dengan Allah SWT. Dengan begitu, kebijakannya selalu disandarkan pada Allah SWT.
Kedua, meneladani kualitas kepemimpinan Nabi Muhammad SAW seperti yang benar-benar dalam surah at-Taubah ayat 128. Berat dirasakan oleh Nabi penderitaan orang lain ( azizun alaihi ma anittum ). Inilah pemimpin sejati yang memiliki kepekaan atas kesulitan rakyatnya ( sense of crisis ).
Nabi juga amat sangat berkeinginan agar umatnya aman, sentosa, dan selamat dunia akhirat ( harishun 'alaikum ). Karakter kepemimpinan ala nabi memiliki semangat yang Tinggi untuk mewujudkan rakyatnya berprestasi sehingga bangsanya meraih kemajuan gemilang (rasa prestasi ).
Nabi SAW juga memiliki sifat kasih sayang ( raufunrahim ) terhadap umatnya, bahkan orang-orang yang memusuhinya. Ia tidak pernah menginginkan kebinasaan ditimpakan pada orang lain, tidak pernah menyerang dalam mempertahankan diri dari musuh dalam peperangan.
Ketiga, meneladani akhlak Nabi SAW yang mencintai, mengamalkan dan mengajarkan Al qur’an. Nabi SAW memiliki akhlak yang agung (al-Qalam ayat 4). Ketika A'isyah ditanya tentang akhlak Nabi, jawabnya, "kana khuluqu al-Qur’an", akhlak Nabi itu adalah Al qur’an.
Maka, karakter kepemimpinan ala Nabi akan dimiliki setiap pemimpin yang mau mengkaji Al qur’an untuk ditadabburi (baca: dibaca, dipahami, dihayati, dan diamalkan). Malah, umat Islam yang memperoleh amanah sebagai pemimpin, tapi enggan atau jauh dari Al qur’an, niscaya hatinya akan keras, tertutup dari cahaya dan pertolongan Allah SWT. Pada dasarnya, menjalankan amanah sebagai pemimpin butuh pertolongan-Nya. Wallahu a'lam .
Riswadi, M.Pd., merupakan Sekretaris PW. ISNU Kaltim tinggal di Desa Purwajaya Loa Janan Kutai Kartanegara,
Sumber gambar dari Harakatuna.com

Orang biasa yang sedang belajar menulis dengan segala keterbatasan. Karena menulis adalah cara kita berbicara dengan zaman. Untuk bertukar pikiran, silahkan hubungi saya melalui halaman Kontak atau melalui Facebook, Twitter, Google+, Youtube, Flickr dan Instagram.
Belum ada komentar.
Oleh: Riswadi (Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19) Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya Jatuh Cinta, dan cara mengungkapkan perasaan cinta kepada yang dikasihi pun juga beragam cara. Sebelum adanya teknologi ... [Baca Selengkapnya]
Comments
Belum ada komentar.