riswadi banner

Bangkit Melawan Kesedihan


By Riswadi on 2025-08-12 10:10:52




Bangkit Melawan Kesedihan

Oleh: Riswadi, M.Pd.*

SETIAP insan pasti sudah merasakan suka duka dalam kehidupan. Terkadang menyenangkan, tetapi adakalanya juga menyedihkan atau menghadapi kesulitan hidup yang tidak ada habis-habisnya. Semua itu hadir sebagai anugerah yang Maha Kuasa untuk menguji kekuatan iman seorang hamba.

Sebagaimana yang dirasakan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah banjir di Kalimantan Selatan, gempa bumi di Majene dan Mamuju Sulawesi Selatan, tanah longsor di Jawa Barat, erupsi gunung semeru di Jawa Timur, dan musibah adanya dampak virus covid-19 yang begitu dasyat memporak-porandakan seluruh sendi kehidupan.

Lantas bagaimana upaya yang harus dilakukan oleh ummat Muslim agar dapat bangkit dari kesedihan yang telah menimpa? Apakah kita harus berlarut-larut meratapi kesedihan?, atau bahkan marah dengan keadaan?. Tentu itu bukan karakter yang harus dilakukan oleh Muslim sejati.

Dari Anas bin Malik RA ia mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit utang, dan dari kekuasaan.” (HR. Bukhari).

Hadits ini menjelaskan tentang pentingnya bangkit untuk melawan kesedihan. Upaya pengelolaan diri agar dapat bersikap tepat dalam menghadapi setiap kesulitan. Kesedihan hendaknya tidak berlarut-larut hingga melahirkan keburukan.

Allah SWT. berfirman, “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS at-Taubah: 40). Ayat ini menegaskan bahwa dilarang untuk larut dalam kesedihan, karena Allah menjamin dan membersamai hamba-Nya. Dan pasti Allah akan memberikan jalan keluar atas kesulitan dan kesedihan hidup. Sebagai ummat Muslim kita harus meyakini bahwa Allah menguji hamba-Nya tidak akan melebihi batas kemampuan seorang hamba. Setelah kesulitan akan datang kemudahan, asalkan kita harus sadar dan kembali ke jalan-Nya.

Ibnu Al-Qoyyim pernah mengemukakan bahwa kesedihan adalah kondisi yang buruk dan tidak baik untuk hati kita. Suatu hal yang paling disenangi setan adalah membuat sedih setiap hamba-Nya. Hingga menghentikannya dari beramal baik dan menahannya dari kebiasaan baik. Dengan demikian tentu sebagai Muslim sejati sudah sepatutnya segera bangkit dalam melawan kesedihan agar dapat menjalani kehidupan dengan baik.

Sungguh Allah SWT. tidak ingin melihat hamba-Nya bersedih, bahkan hingga larut dalam kesedihan. Ia senantiasa menjamin setiap ciptaan-Nya agar mendapatkan kebahagiaan. Allah SWT. berfirman, “Kami tidaklah menurunkan Al Qur’an ini kepadamu untuk membuatmu susah.” (QS Thaha:2). Jelas dan tegas bahwa ketika seorang hamba mentadabburi al qur’an isnyaallah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Langkah-langkah yang harus dilakukan agar dapat bangkit melawan kesedihan yang saat ini dirasakan oleh setiap insan yang beriman adalah Pertama, Menghadapi perasaan dan emosi dengan jujur. Ketika merasakan duka, sedih, yang dialami maka perasaan dan emosi dengan jujur. Jangan berpura-pura kuat padahal lemah. Sehingga lebih realistis dalam menghadapi situasi dan kondisi. Kedua, Membatasi diri. Kekuatan mental seseorang dapat terlihat saat dia mampu membatasi waktu dan dirinya untuk bersedih terlalu lama. Ketika kesedihan sudah membawanya kepada kebiasaan dan pikiran negatif, dia memilih untuk berhenti.

Kemudian yang Ketiga, Menguji persepsi diri. Kondisi emosi akan mempengaruhi pikiran dan persepsi terhadap kenyataan. Ketika mengasihani diri sendiri, akan fokus kepada hal-hal buruk yang sedang terjadi. Oleh karenanya perlu menguji persepsi dan jangan terjebak dalam lingkaran negatif. Keempat, Mengubah pikiran negatif melalui tindakan positif.

Selanjutnya yang Kelima, Berusaha untuk tetap produktif. Apabila kita mengasihani diri sendiri akan membuang waktu pencarian solusi maka lebih baik melakukan aktifitas yang produktif. Keenam, Belajar bersyukur. Cobalah hitung kebaikan dan nikmat yang sudah kita dapatkan, daripada kita berkeluh kesah atas kesedihan yang saat ini dirasakan. Lebih baik mengubahnya dengan cara bersyukur kepada yang Maha Kuasa.

Ketujuh, Menolong orang lain. Dengan kita melihat kondisi orang lain yang lebih susah dan menolongnya maka akan melupakan kondisi yang senyatanya diri kita sendiri. Dan sudah barang tentu ada orang yang lebih sulit, sedih dan susah daripada yang kita alami. Kedelapan, Tidak Mengeluh. Dengan mengeluh justru akan memperburuk keadaan, dan sebaiknya jangan mengeluh. Kesembilan, Tetap Optimis. Terkadang, permasalahan hidup sulit untuk dicegah dan diatasi. Keadaan-keadaan seperti kehilangan orang yang dicintai, bencana alam, dan kesedihan yang lain yang harus dirasakan. Maka jangan biarkan situasi tersebut merenggut harapan Anda. Untuk bisa bertahan harus tetap optimis.

Kesedihan, kesusahan, kesulitan dalam kehidupan harus dilawan dengan semangat yang tinggi, agar dapat bangkit untuk menyongsong harapan masa depan yang lebih cerah. Semoga.

Riswadi, M.Pd. Tinggal di Desa Purwajaya Loa Janan Kutai Kartanegara.

Sumber gambar dari: https://radarpekanbaru.com/



152 Total Views



Filed Under: OPINI








RISWADI

Orang biasa yang sedang belajar menulis dengan segala keterbatasan. Karena menulis adalah cara kita berbicara dengan zaman. Untuk bertukar pikiran, silahkan hubungi saya melalui halaman Kontak atau melalui Facebook, Twitter, Google+, Youtube, Flickr dan Instagram.




Comments


Belum ada komentar.






Leave a Reply


Your email address will not be published. Required fields are marked *


Rekomendasi Artikel

SURAT CINTA DARI TUHAN Antara Cinta, Takut dan Malu Kepada-Nya

Oleh: Riswadi (Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19) Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya Jatuh Cinta, dan cara mengungkapkan perasaan cinta kepada yang dikasihi pun juga beragam cara. Sebelum adanya teknologi ... [Baca Selengkapnya]

Silahkan daftarkan e-mail Anda untuk berlangganan artikel terbaru.

Bangkit Melawan Kesedihan


By Riswadi on 2025-08-12 10:10:52




Bangkit Melawan Kesedihan

Oleh: Riswadi, M.Pd.*

SETIAP insan pasti sudah merasakan suka duka dalam kehidupan. Terkadang menyenangkan, tetapi adakalanya juga menyedihkan atau menghadapi kesulitan hidup yang tidak ada habis-habisnya. Semua itu hadir sebagai anugerah yang Maha Kuasa untuk menguji kekuatan iman seorang hamba.

Sebagaimana yang dirasakan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah banjir di Kalimantan Selatan, gempa bumi di Majene dan Mamuju Sulawesi Selatan, tanah longsor di Jawa Barat, erupsi gunung semeru di Jawa Timur, dan musibah adanya dampak virus covid-19 yang begitu dasyat memporak-porandakan seluruh sendi kehidupan.

Lantas bagaimana upaya yang harus dilakukan oleh ummat Muslim agar dapat bangkit dari kesedihan yang telah menimpa? Apakah kita harus berlarut-larut meratapi kesedihan?, atau bahkan marah dengan keadaan?. Tentu itu bukan karakter yang harus dilakukan oleh Muslim sejati.

Dari Anas bin Malik RA ia mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit utang, dan dari kekuasaan.” (HR. Bukhari).

Hadits ini menjelaskan tentang pentingnya bangkit untuk melawan kesedihan. Upaya pengelolaan diri agar dapat bersikap tepat dalam menghadapi setiap kesulitan. Kesedihan hendaknya tidak berlarut-larut hingga melahirkan keburukan.

Allah SWT. berfirman, “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS at-Taubah: 40). Ayat ini menegaskan bahwa dilarang untuk larut dalam kesedihan, karena Allah menjamin dan membersamai hamba-Nya. Dan pasti Allah akan memberikan jalan keluar atas kesulitan dan kesedihan hidup. Sebagai ummat Muslim kita harus meyakini bahwa Allah menguji hamba-Nya tidak akan melebihi batas kemampuan seorang hamba. Setelah kesulitan akan datang kemudahan, asalkan kita harus sadar dan kembali ke jalan-Nya.

Ibnu Al-Qoyyim pernah mengemukakan bahwa kesedihan adalah kondisi yang buruk dan tidak baik untuk hati kita. Suatu hal yang paling disenangi setan adalah membuat sedih setiap hamba-Nya. Hingga menghentikannya dari beramal baik dan menahannya dari kebiasaan baik. Dengan demikian tentu sebagai Muslim sejati sudah sepatutnya segera bangkit dalam melawan kesedihan agar dapat menjalani kehidupan dengan baik.

Sungguh Allah SWT. tidak ingin melihat hamba-Nya bersedih, bahkan hingga larut dalam kesedihan. Ia senantiasa menjamin setiap ciptaan-Nya agar mendapatkan kebahagiaan. Allah SWT. berfirman, “Kami tidaklah menurunkan Al Qur’an ini kepadamu untuk membuatmu susah.” (QS Thaha:2). Jelas dan tegas bahwa ketika seorang hamba mentadabburi al qur’an isnyaallah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Langkah-langkah yang harus dilakukan agar dapat bangkit melawan kesedihan yang saat ini dirasakan oleh setiap insan yang beriman adalah Pertama, Menghadapi perasaan dan emosi dengan jujur. Ketika merasakan duka, sedih, yang dialami maka perasaan dan emosi dengan jujur. Jangan berpura-pura kuat padahal lemah. Sehingga lebih realistis dalam menghadapi situasi dan kondisi. Kedua, Membatasi diri. Kekuatan mental seseorang dapat terlihat saat dia mampu membatasi waktu dan dirinya untuk bersedih terlalu lama. Ketika kesedihan sudah membawanya kepada kebiasaan dan pikiran negatif, dia memilih untuk berhenti.

Kemudian yang Ketiga, Menguji persepsi diri. Kondisi emosi akan mempengaruhi pikiran dan persepsi terhadap kenyataan. Ketika mengasihani diri sendiri, akan fokus kepada hal-hal buruk yang sedang terjadi. Oleh karenanya perlu menguji persepsi dan jangan terjebak dalam lingkaran negatif. Keempat, Mengubah pikiran negatif melalui tindakan positif.

Selanjutnya yang Kelima, Berusaha untuk tetap produktif. Apabila kita mengasihani diri sendiri akan membuang waktu pencarian solusi maka lebih baik melakukan aktifitas yang produktif. Keenam, Belajar bersyukur. Cobalah hitung kebaikan dan nikmat yang sudah kita dapatkan, daripada kita berkeluh kesah atas kesedihan yang saat ini dirasakan. Lebih baik mengubahnya dengan cara bersyukur kepada yang Maha Kuasa.

Ketujuh, Menolong orang lain. Dengan kita melihat kondisi orang lain yang lebih susah dan menolongnya maka akan melupakan kondisi yang senyatanya diri kita sendiri. Dan sudah barang tentu ada orang yang lebih sulit, sedih dan susah daripada yang kita alami. Kedelapan, Tidak Mengeluh. Dengan mengeluh justru akan memperburuk keadaan, dan sebaiknya jangan mengeluh. Kesembilan, Tetap Optimis. Terkadang, permasalahan hidup sulit untuk dicegah dan diatasi. Keadaan-keadaan seperti kehilangan orang yang dicintai, bencana alam, dan kesedihan yang lain yang harus dirasakan. Maka jangan biarkan situasi tersebut merenggut harapan Anda. Untuk bisa bertahan harus tetap optimis.

Kesedihan, kesusahan, kesulitan dalam kehidupan harus dilawan dengan semangat yang tinggi, agar dapat bangkit untuk menyongsong harapan masa depan yang lebih cerah. Semoga.

Riswadi, M.Pd. Tinggal di Desa Purwajaya Loa Janan Kutai Kartanegara.

Sumber gambar dari: https://radarpekanbaru.com/



152 Total Views



Filed Under: OPINI








RISWADI

Orang biasa yang sedang belajar menulis dengan segala keterbatasan. Karena menulis adalah cara kita berbicara dengan zaman. Untuk bertukar pikiran, silahkan hubungi saya melalui halaman Kontak atau melalui Facebook, Twitter, Google+, Youtube, Flickr dan Instagram.




Comments


Belum ada komentar.






Leave a Reply


Your email address will not be published. Required fields are marked *


Rekomendasi Artikel

SURAT CINTA DARI TUHAN Antara Cinta, Takut dan Malu Kepada-Nya

Oleh: Riswadi (Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19) Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya Jatuh Cinta, dan cara mengungkapkan perasaan cinta kepada yang dikasihi pun juga beragam cara. Sebelum adanya teknologi ... [Baca Selengkapnya]

Silahkan daftarkan e-mail Anda untuk berlangganan artikel terbaru.