riswadi banner

Adab Dalam Perbedaan Pendapat


By Riswadi on 2025-08-12 09:34:41




Adab Dalam Perbedaan Pendapat

Oleh: Riswadi, M.Pd.*

Rabu, 16 Juni 2021, di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur dipenuhi dengan massa demontrasi anak-anak sekolah disalah satu SMAN Kota Samarinda. Pendemo tersebut menggunakan seragam sekolah yang didampingi perwakilan wali murid, untuk memperjuangkan kepentigannya agar dipenuhi oleh Gubernur Kaltim.

Pemandangan tersebut membuat miris dan prihatin karena melibatkan anak-anak sekolah yang seharusnya mereka belajar dengan baik. Belajar adab, etika, moralitas, budi perkerti, dan lainnya. Namun, Ketika siswa dilibatkan dalam konflik seakan mengajarkan hal-hal yang kurang beradab dan beretika.

Idealnya masalah tersebut tanpa harus melibatkan siswa, khawatir akan mempengaruhi sikap dan karakter siswa yang secara langsung melihat, mendengarkan, berucap, dan bertindak tidak selayaknya dilakukan oleh siswa yang sedang belajar. 

Disisi lain, dalam kehidupan sehari-hari pasti kita dapat menjumpai permasalahan. Permasalahan tersebut ada yang bersifat pribadi dan kelembagaan, bahkan menyangkut pemerintahan. Ada masalah politik, ekonomi, pemahaman ajaran agama, hukum, dan lain sebagainya. Munculnya permasalahan tersebut tentu diakibatkan karena perbedaan pendapat. Bagaimana Islam mengajarkan dalam menyikapi perbedaan pendapat?

Merupakan keniscayaan bahwa perbedaan pendapat itu terjadi, karena manusia dianugerahi akal pikiran oleh Allah SWT. Alkisah, Rasulullah SAW menyuruh dua sahabat untuk pergi ke perkampungan bani Quraizhah. Nabi memerintahkan keduanya untuk tidak shalat Ashar kecuali telah sampai di tempat tujuan. Dalam perjalanan,  waktu Ashar hampir habis, tetapi tempat tujuan masih jauh.

Keduanya lalu berbeda pendapat. Salah seorang di antara mereka melakukan shalat Ashar sebelum habis waktunya walaupun menyalahi perintah Rasulullah SAW yang menyuruh shalat Ashar di perkampungan bani Quraizhah. Sahabat satunya lagi melakukan shalat Ashar di tempat bani Quraizhah sesuai dengan instruksi Rasulullah SAW walaupun tidak pada waktu Ashar.

Lantas, dua orang sahabat tersebut menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perbedaan pendapat yang mereka alami. Rasulullah SAW diam pertanda membenarkan keduanya. Beliau tahu bahwa kedua sahabat ini walaupun punya perbedaan pandangan tetapi niatnya adalah ingin mengikuti perintahnya. Hal itu dibenarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Disaat Nabi masih hidup saja terjadi perbedaan pendapat, apalagi sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Terbukti banyaknya perbedaan pendapat antar sahabat, dan secara faktual kita jumpai permasalahan perbedaan pendapat setiap hari disekeliling kita. Oleh karena itu Alquran dan hadis mengajarkan kita tentang adab-adab dalam berbeda pendapat.

Surah an-Nahl ayat 125, Allah SWT berfirman, "Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdialoglah dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang tersesat, dan Dia lebih mengetahui siapa yang mendapatkan petunjuk."

Esensinya, Alquran membolehkan dialog, tetapi harus dengan cara yang baik dan beradab. Sebuah dialog tidak jarang melahirkan perbedaan pendapat. Perdebatan yang dilakukan dengan cara-cara tidak beradab akan melahirkan debat kusir bahkan permusuhan.

Hal ini diingatkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis, "Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya." (HR Abu Dawud, no 4.800; disahihkan an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, no 630).

Sangat jelas bahwa Islam mengajarkan agar kita menghindarkan perdebatan yang akan memunculkan permusuhan. Bahkan perdebatan yang tidak didasarkan pada ilmu sehingga buang-buang waktu. Apalagi sampai mengajarkan atau mengajak siswa untuk melakukan yang tidak dibenarkan dalam etika sosial dan agama Islam.  

Mendengarkan pendapat yang berbeda merupakan perilaku yang baik, sebagaimana ungkapan, "Pendapatku benar tetapi bisa jadi mengandung kesalahan, pendapatmu salah tetapi boleh jadi mengandung kebenaran." Dengan demikian kita akan menjadi lebih arif dan bijaksana dalam mencermati permasalahan dalam kehidupan.

Riswadi, M.Pd., Sekretaris PW ISNU Kaltim.

Sumber gambar dari: https://bobo.grid.id/



149 Total Views



Filed Under: OPINI








RISWADI

Orang biasa yang sedang belajar menulis dengan segala keterbatasan. Karena menulis adalah cara kita berbicara dengan zaman. Untuk bertukar pikiran, silahkan hubungi saya melalui halaman Kontak atau melalui Facebook, Twitter, Google+, Youtube, Flickr dan Instagram.




Comments


Belum ada komentar.






Leave a Reply


Your email address will not be published. Required fields are marked *


Rekomendasi Artikel

SURAT CINTA DARI TUHAN Antara Cinta, Takut dan Malu Kepada-Nya

Oleh: Riswadi (Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19) Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya Jatuh Cinta, dan cara mengungkapkan perasaan cinta kepada yang dikasihi pun juga beragam cara. Sebelum adanya teknologi ... [Baca Selengkapnya]

Silahkan daftarkan e-mail Anda untuk berlangganan artikel terbaru.

Adab Dalam Perbedaan Pendapat


By Riswadi on 2025-08-12 09:34:41




Adab Dalam Perbedaan Pendapat

Oleh: Riswadi, M.Pd.*

Rabu, 16 Juni 2021, di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur dipenuhi dengan massa demontrasi anak-anak sekolah disalah satu SMAN Kota Samarinda. Pendemo tersebut menggunakan seragam sekolah yang didampingi perwakilan wali murid, untuk memperjuangkan kepentigannya agar dipenuhi oleh Gubernur Kaltim.

Pemandangan tersebut membuat miris dan prihatin karena melibatkan anak-anak sekolah yang seharusnya mereka belajar dengan baik. Belajar adab, etika, moralitas, budi perkerti, dan lainnya. Namun, Ketika siswa dilibatkan dalam konflik seakan mengajarkan hal-hal yang kurang beradab dan beretika.

Idealnya masalah tersebut tanpa harus melibatkan siswa, khawatir akan mempengaruhi sikap dan karakter siswa yang secara langsung melihat, mendengarkan, berucap, dan bertindak tidak selayaknya dilakukan oleh siswa yang sedang belajar. 

Disisi lain, dalam kehidupan sehari-hari pasti kita dapat menjumpai permasalahan. Permasalahan tersebut ada yang bersifat pribadi dan kelembagaan, bahkan menyangkut pemerintahan. Ada masalah politik, ekonomi, pemahaman ajaran agama, hukum, dan lain sebagainya. Munculnya permasalahan tersebut tentu diakibatkan karena perbedaan pendapat. Bagaimana Islam mengajarkan dalam menyikapi perbedaan pendapat?

Merupakan keniscayaan bahwa perbedaan pendapat itu terjadi, karena manusia dianugerahi akal pikiran oleh Allah SWT. Alkisah, Rasulullah SAW menyuruh dua sahabat untuk pergi ke perkampungan bani Quraizhah. Nabi memerintahkan keduanya untuk tidak shalat Ashar kecuali telah sampai di tempat tujuan. Dalam perjalanan,  waktu Ashar hampir habis, tetapi tempat tujuan masih jauh.

Keduanya lalu berbeda pendapat. Salah seorang di antara mereka melakukan shalat Ashar sebelum habis waktunya walaupun menyalahi perintah Rasulullah SAW yang menyuruh shalat Ashar di perkampungan bani Quraizhah. Sahabat satunya lagi melakukan shalat Ashar di tempat bani Quraizhah sesuai dengan instruksi Rasulullah SAW walaupun tidak pada waktu Ashar.

Lantas, dua orang sahabat tersebut menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perbedaan pendapat yang mereka alami. Rasulullah SAW diam pertanda membenarkan keduanya. Beliau tahu bahwa kedua sahabat ini walaupun punya perbedaan pandangan tetapi niatnya adalah ingin mengikuti perintahnya. Hal itu dibenarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Disaat Nabi masih hidup saja terjadi perbedaan pendapat, apalagi sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Terbukti banyaknya perbedaan pendapat antar sahabat, dan secara faktual kita jumpai permasalahan perbedaan pendapat setiap hari disekeliling kita. Oleh karena itu Alquran dan hadis mengajarkan kita tentang adab-adab dalam berbeda pendapat.

Surah an-Nahl ayat 125, Allah SWT berfirman, "Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdialoglah dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang tersesat, dan Dia lebih mengetahui siapa yang mendapatkan petunjuk."

Esensinya, Alquran membolehkan dialog, tetapi harus dengan cara yang baik dan beradab. Sebuah dialog tidak jarang melahirkan perbedaan pendapat. Perdebatan yang dilakukan dengan cara-cara tidak beradab akan melahirkan debat kusir bahkan permusuhan.

Hal ini diingatkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis, "Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya." (HR Abu Dawud, no 4.800; disahihkan an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, no 630).

Sangat jelas bahwa Islam mengajarkan agar kita menghindarkan perdebatan yang akan memunculkan permusuhan. Bahkan perdebatan yang tidak didasarkan pada ilmu sehingga buang-buang waktu. Apalagi sampai mengajarkan atau mengajak siswa untuk melakukan yang tidak dibenarkan dalam etika sosial dan agama Islam.  

Mendengarkan pendapat yang berbeda merupakan perilaku yang baik, sebagaimana ungkapan, "Pendapatku benar tetapi bisa jadi mengandung kesalahan, pendapatmu salah tetapi boleh jadi mengandung kebenaran." Dengan demikian kita akan menjadi lebih arif dan bijaksana dalam mencermati permasalahan dalam kehidupan.

Riswadi, M.Pd., Sekretaris PW ISNU Kaltim.

Sumber gambar dari: https://bobo.grid.id/



149 Total Views



Filed Under: OPINI








RISWADI

Orang biasa yang sedang belajar menulis dengan segala keterbatasan. Karena menulis adalah cara kita berbicara dengan zaman. Untuk bertukar pikiran, silahkan hubungi saya melalui halaman Kontak atau melalui Facebook, Twitter, Google+, Youtube, Flickr dan Instagram.




Comments


Belum ada komentar.






Leave a Reply


Your email address will not be published. Required fields are marked *


Rekomendasi Artikel

SURAT CINTA DARI TUHAN Antara Cinta, Takut dan Malu Kepada-Nya

Oleh: Riswadi (Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19) Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya Jatuh Cinta, dan cara mengungkapkan perasaan cinta kepada yang dikasihi pun juga beragam cara. Sebelum adanya teknologi ... [Baca Selengkapnya]

Silahkan daftarkan e-mail Anda untuk berlangganan artikel terbaru.