riswadi banner

NASIB PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA NEW NORMAL PANDEMI COVID-19


By Riswadi on 2025-08-11 11:51:35




NASIB PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA NEW NORMAL PANDEMI COVID-19

Oleh: Riswadi, M.Pd.*

Pandemi Covid-19 masih berlangsung, dan kecenderungannya semakin tinggi yang terkonfirmasi positif. Oleh karenanya para pengambil kebijakan belum berani untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka secara langsung terlebih pada zona merah. Kebijakan itu diambil dalam rangka untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

Pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh menjadi pilihan para penyelenggara pendidikan dengan asumsi bahwa transfer knowledge dapat tetap berlangsung. Namun seberapa efektifkah pembelajaran daring ? bagaimana nasib pendidikan karakter yang selama ini menjadi ciri khas kurikulum 2013 yang digaungkan oleh pemerintah ? sebenarnya pendidikan karakter di era new normal pandemi covid-19 menjadi tanggung jawab siapa ?

Sebagai pijakan atas pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini, Mendikbud telah mengeluarkan Surat Edaran No. 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19). Terkait pembelajaran dari rumah, Mendikbud menekankan agar pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

Kalau mencermati permasalahan dilapangan, bahwa terdapat banyak keluhan oleh guru, kepala sekolah, orang tua, dan peserta didik itu sendiri. Permasalahan itu antara lain penguasaan teknologi yang dimiliki oleh guru dan orang tua serta peserta didik, semakin membengkak biaya paket data (quota), kondisi jaringan telekomunikasi yang belum merata, tidak semua memiliki hand phone android/iphone, ketelatenan dan kesabaran orang tua saat pendampingan anak dalam pembelajaran, tugas-tugas pembelajaran yang terlalu banyak, ketidakjujuran orang tua dalam mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan kepada anak, ketercapaian materi pembelajaran yang kurang efektif, feedback atau umpan balik dari guru dan siswa yang tidak optimal, durasi waktu pembelajaran jarak jauh yang tidak sama dengan pembejaran langsung, muatan pendidikan karakter dalam mata pembelajaran dan ekstra kurikuler kurang optimal, serta radiasi cahaya yang ditimbulkan dari hand phone. Dan masih banyak lagi permasalahan yang muncul sebagaimana pemberitaan dimedia massa sebagai contoh kekerasan terhadap anak dalam pendampingan pembelajaran.

Kondisi tersebut seakan urusan pendidikan itu hanya semata-mata menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, padahal kalau mencermati surat edaran Mendikbud tersebut tidak menuntut ketercapaian kurikulum yang ada dan tidak membebani terkait kenaikan kelas dan kelulusan. Terlebih lagi banyaknya permasalahan yang ada dalam pembelajaran jarak jauh/daring. Lantas, bagaimana nasib masa depan generasi bangsa saat ini yang sudah tujuh bulan melaksanakan pebelajaran daring. Bisa jadi ada penurunan kualitas sumber daya manusia Indonesia akibat dampak pandemic covid-19. Terlebih tentang pendidikan karakter yang selama ini menjadi focus kebijakan pemerintah. Kalau kita hanya menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada lembaga pendidikan maka celakalah masa depan generasi bangsa yang akan datang, apalagi pandemic covid-19 terus akan berlanjut. Kalau kita menyadari bahwa hakikatnya pendidikan itu tidak serta merta urusan lembaga pendidikan. Tetapi menjadi tanggung jawab orang tua dan lingkungan dimana bertempat tinggal. Apalagi terkait pendidikan karakter.

NASIB DAN TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN KARAKTER

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) yang bergerak dibidang pendidikan, pengetahuan dan budaya mencanangkan empat pilar pendidikan yakni: (1) learning to Know (belajar agar mendapatkan ilmu pengetahuan), (2) learning to do (belajar agar mendapatkan keterampilan, (3) learning to be (belajar agar bisa menjadi dirinya sendiri, menjadi seorang yang bermanfaat, dan (4) learning to live together (belajar agar bisa hidup bermasyarakat secara global. Keempat pilar tersebut menjadi ruh dalam pengembangan pendidikan di Indonesia dan seluruh dunia. Pembentukan karakter ditunjukkan dalam pilar ketiga dan keempat yakni learning to be dan learning to live together.

Sejalan dengan UNECSO, pembangunan pendidikan Indonesia didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya yang tertuang dalam tujuan kurikulum. Tujuan kurikulum 2013 mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Rumusan kompetensi sikap spiritual yaitu “menghargai dan mengahayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan kompetensi sikap sosial yaitu, “menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya”. Kedua kompetensi tersebut akan membentuk karakter peserta didik yang dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching). Kondisi dimana saat ini pada masa pendemi covid-19 maka peserta didik harus learn from home (belajar dari rumah) maka guru tidak memungkinkan dapat secara efektif  memberikan pendidikan karakter secara langsung seperti di sekolah. Sehingga peran guru dalam penguatan karakter melalui mata pelajaran sedikit banyak akan mengalami kendala. Apalagi melalui ektra kurikuler dan program sekolah pastinya tidak dapat dilakukan. Walaupun dengan teknologi yang canggih pasti tidak dapat seoptimal pembelajaran secara luring (pembelajaran tatap muka). Sebagiamana papar pakar pendidikan Universitas Brawijaya (UB) Aulia Luqman Azis bertepatan dengan Hardiknas 2020. “Selamanya profesi guru tidak akan tergantikan oleh teknologi” dalam laman resmi UB (2/05/2020).

Pendidikan karakter sejatinya lebih dominan menjadi tanggung jawab orang tua dan lingkungan, sekolah hanya sebagiannya saja membantu dalam penguatan karakter, yang dimasukan dalam pembelajaran maupun ektra kurikuler serta program sekolah. Waktu belajarnya pun terbatas di sekolah, lebih banyak dikeluarga dan lingkungan. Apalagi tenaga pendidik ada yang kurang cermat dan kurang peduli dalam penguatan karakter peserta didik. Makanya menurut hemat penulis bahwa ketika dalam Era New Normal Pandemi Covid-19 ini sejatinya mengembalikan sepenuhnya kepada orang tua dan lingkungan dalam pendidikan karakter generasi kita. Sebagaimana ungkapan dari sang bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara adalah “Setiap Orang Menjadi Guru, Setiap Rumah Menjadi Sekolah”.

Dari ungkapan Ki Hajar Dewantara tersebut setidaknya ada dua hal, Pertama, bahwa setiap anggota keluarga yang lebih dewasa dapat memerankan diri sebagai guru untuk mengajarkan pengetahuan, keterampilan, sikap sosial dan spiritual, keteladanan, asah, asih, dan asuh, saling menghargai, kedisplinan, tanggung jawab, dan lain-lain. Kedua, bahwa setiap rumah hendaknya menjadi tempat untuk berproses bersama anggota keluarga untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan spiritual yang akan membawa pendidikan karakter demi masa depan bangsa sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Takhroji Aji dalam tulisan yang berjudul “Pendidikan Karakter di Masa Pandemi, Menjadi Tanggung Jawab Siapa ?”,  dalam laman resmi BDKJakarta Kemenag RI (07/07/2020)

Pengetahuan, keterampilan, spiritual, sosial, karakter yang baik tidak serta merta harus mengandalkan ruang-ruang kelas melalui tenaga pendidik yang secara resmi mengajar disekolah, namun seyogyanya bisa diperoleh dan lebih dominan dari orang tua dan orang dewasa dirumah atau dilingkungan dimana bertempat tinggal (Community Based Education).

Dalam Al Qur’an telah dijelaskan tentang pendidikan Islam, seperti dalam Surah Lukman ayat 13 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan (Allah), sesunggunya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Pada ayat ini Allah SWT. Menekankan pendidikan karakter yang dilakukan orang tua dari rumah, karena pendidikan karakter sejatinya sudah dilakukan oleh orang tua sejak dikandungan, saat melahirkan, dan sejak sebelum mendapatkan pendidikan diluar rumah seperti sekolah atau madrasah. Dan ayat ini menegaskan bahwa orang tua sebagai guru pertamanya peserta didik yang ada dirumah, dan pastinya orang tua tidak akan mungkin mengajarkan hal-hal yang diluar perintah agama. Dan dalam ayat selanjutnya Allah menegaskan tentang prinsip-prinsip dasar pendidikan karakter yang sangat kuat yakni masalah iman, ibadah, sosial dan ilmu pengetahuan yang akan membentuk karakter seorang anak untuk menjadi bekal kehidupan masa depan anak tersebut.

Dalam hadits dan ungkapan para ulama-ulama kita juga sangat banyak terkait tentang penegasan untuk pendidikan karakter yang dilakukan oleh orang tua yakni “al umm madrasatil ula” (ibu adalah sekolah/madrasah pertama bagi anak-anaknya, “Kullu mauludin yuladu ala al-fitrah dst”. (setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, tergantung orang tuanya mau menjadikan majusi, nasrani atau yahudi), “Akrimu auladakum wa ahsinu adaabahum” (Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab/ahlaqnya), dan terkait untuk mengajarkan keterampilan Rosulullah Muhammad SAW. Bersabda “Allimu auladakum assibahah warrimayah”. (ajarilah anak-anakmu dengan berenang dan memanah), dan Rosul pun juga memerintahkan untuk rumah kita agar diterangi dengan Sholat dan bacaan Al Qur’an (Nawiru buyutakum bissholat wa tilawatil qur’an). Dan masih banyak lagi hadits maupun ungkapan para ulama, untuk memerintahkan dalam mendidik anak dan menjadikan rumah kita sebagai tempat muculnya peradaban dalam mengajarkan pendidikan karakter sebelum diluar rumah.

Banyaknya perintah dan anjuran yang ada dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW serta ungkapan para salafussholih, maka sudah sepatutnya rumah harus menjadi school of love atau baitii jannati. Rumah harus dijadikan tempat yang nyaman, enjoy, menyenangkan dan menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya anak. Orang tua sebagai role model mereka dirumah. Menurut Megawangi (2003) yang dikutip oleh Takhroji Aji (2020) beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak adalah 1) orang tua kurang menunjukkan kasih sayang mereka baik verbal maupun fisik, 2) kurang meluangkan waktu untuk anaknya, 3) bersikap kasar terhadap anak baik secara verbal maupun fisik, 4) memaksa anak untuk manjadi pintar  terlalu dini, 5) tidak menanamkan karakter yang baik dan kuat terhadap anaknya.

Pendidikan karakter di masa learn from home atau di era new normal pandemi covid-19 ini, menurut hemat penulis lebih dominan menjadi tanggung jawab orang tua dan lingkungan. Tentu tidak menafian peran guru dalam pembelajaran daring. Menurut penuturan Arifin (2003) bahwa pendidikan karakter menjadi tanggung jawab bersama, antara guru, orang tua, peserta didik dan lingkungan, agar dapat mewujudkan pembangunan pendidikan nasional yang didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya. Hanya saja peran orang tua dan lingkungan yang waktunya lebih banyak untuk anak apalagi dalam masa learn from home seperti ini, sudah semestinya untuk mengoptimalkan pendidikan karakter yang menjadi target pemerintah dalam kurikulum 2013.  Orang tua dan lingkungan sangat berperan dalam membentuk karakter anak, maka selamatkanlah anak-anak kita, jangan sampai SALAH ASUH DAN SALAH GAUL. Sehinngga kita akan menyesal selama-lamanya karena memiliki anak yang tidak dapat dibanggakan baik didunia maupun diakhirat. Naudzubillahi min dzalik. Wallohu a’lamu bisshowab.

Riswadi, M.Pd., merupakan Sekretaris Wilayah PW. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kalimantan Timur dan ASN pada IAIN Samarinda.



210 Total Views



Filed Under: OPINI








RISWADI

Orang biasa yang sedang belajar menulis dengan segala keterbatasan. Karena menulis adalah cara kita berbicara dengan zaman. Untuk bertukar pikiran, silahkan hubungi saya melalui halaman Kontak atau melalui Facebook, Twitter, Google+, Youtube, Flickr dan Instagram.




Comments


Belum ada komentar.






Leave a Reply


Your email address will not be published. Required fields are marked *


Rekomendasi Artikel

SURAT CINTA DARI TUHAN Antara Cinta, Takut dan Malu Kepada-Nya

Oleh: Riswadi (Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19) Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya Jatuh Cinta, dan cara mengungkapkan perasaan cinta kepada yang dikasihi pun juga beragam cara. Sebelum adanya teknologi ... [Baca Selengkapnya]

Silahkan daftarkan e-mail Anda untuk berlangganan artikel terbaru.

NASIB PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA NEW NORMAL PANDEMI COVID-19


By Riswadi on 2025-08-11 11:51:35




NASIB PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA NEW NORMAL PANDEMI COVID-19

Oleh: Riswadi, M.Pd.*

Pandemi Covid-19 masih berlangsung, dan kecenderungannya semakin tinggi yang terkonfirmasi positif. Oleh karenanya para pengambil kebijakan belum berani untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka secara langsung terlebih pada zona merah. Kebijakan itu diambil dalam rangka untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

Pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh menjadi pilihan para penyelenggara pendidikan dengan asumsi bahwa transfer knowledge dapat tetap berlangsung. Namun seberapa efektifkah pembelajaran daring ? bagaimana nasib pendidikan karakter yang selama ini menjadi ciri khas kurikulum 2013 yang digaungkan oleh pemerintah ? sebenarnya pendidikan karakter di era new normal pandemi covid-19 menjadi tanggung jawab siapa ?

Sebagai pijakan atas pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini, Mendikbud telah mengeluarkan Surat Edaran No. 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19). Terkait pembelajaran dari rumah, Mendikbud menekankan agar pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

Kalau mencermati permasalahan dilapangan, bahwa terdapat banyak keluhan oleh guru, kepala sekolah, orang tua, dan peserta didik itu sendiri. Permasalahan itu antara lain penguasaan teknologi yang dimiliki oleh guru dan orang tua serta peserta didik, semakin membengkak biaya paket data (quota), kondisi jaringan telekomunikasi yang belum merata, tidak semua memiliki hand phone android/iphone, ketelatenan dan kesabaran orang tua saat pendampingan anak dalam pembelajaran, tugas-tugas pembelajaran yang terlalu banyak, ketidakjujuran orang tua dalam mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan kepada anak, ketercapaian materi pembelajaran yang kurang efektif, feedback atau umpan balik dari guru dan siswa yang tidak optimal, durasi waktu pembelajaran jarak jauh yang tidak sama dengan pembejaran langsung, muatan pendidikan karakter dalam mata pembelajaran dan ekstra kurikuler kurang optimal, serta radiasi cahaya yang ditimbulkan dari hand phone. Dan masih banyak lagi permasalahan yang muncul sebagaimana pemberitaan dimedia massa sebagai contoh kekerasan terhadap anak dalam pendampingan pembelajaran.

Kondisi tersebut seakan urusan pendidikan itu hanya semata-mata menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, padahal kalau mencermati surat edaran Mendikbud tersebut tidak menuntut ketercapaian kurikulum yang ada dan tidak membebani terkait kenaikan kelas dan kelulusan. Terlebih lagi banyaknya permasalahan yang ada dalam pembelajaran jarak jauh/daring. Lantas, bagaimana nasib masa depan generasi bangsa saat ini yang sudah tujuh bulan melaksanakan pebelajaran daring. Bisa jadi ada penurunan kualitas sumber daya manusia Indonesia akibat dampak pandemic covid-19. Terlebih tentang pendidikan karakter yang selama ini menjadi focus kebijakan pemerintah. Kalau kita hanya menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada lembaga pendidikan maka celakalah masa depan generasi bangsa yang akan datang, apalagi pandemic covid-19 terus akan berlanjut. Kalau kita menyadari bahwa hakikatnya pendidikan itu tidak serta merta urusan lembaga pendidikan. Tetapi menjadi tanggung jawab orang tua dan lingkungan dimana bertempat tinggal. Apalagi terkait pendidikan karakter.

NASIB DAN TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN KARAKTER

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) yang bergerak dibidang pendidikan, pengetahuan dan budaya mencanangkan empat pilar pendidikan yakni: (1) learning to Know (belajar agar mendapatkan ilmu pengetahuan), (2) learning to do (belajar agar mendapatkan keterampilan, (3) learning to be (belajar agar bisa menjadi dirinya sendiri, menjadi seorang yang bermanfaat, dan (4) learning to live together (belajar agar bisa hidup bermasyarakat secara global. Keempat pilar tersebut menjadi ruh dalam pengembangan pendidikan di Indonesia dan seluruh dunia. Pembentukan karakter ditunjukkan dalam pilar ketiga dan keempat yakni learning to be dan learning to live together.

Sejalan dengan UNECSO, pembangunan pendidikan Indonesia didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya yang tertuang dalam tujuan kurikulum. Tujuan kurikulum 2013 mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Rumusan kompetensi sikap spiritual yaitu “menghargai dan mengahayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan kompetensi sikap sosial yaitu, “menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya”. Kedua kompetensi tersebut akan membentuk karakter peserta didik yang dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching). Kondisi dimana saat ini pada masa pendemi covid-19 maka peserta didik harus learn from home (belajar dari rumah) maka guru tidak memungkinkan dapat secara efektif  memberikan pendidikan karakter secara langsung seperti di sekolah. Sehingga peran guru dalam penguatan karakter melalui mata pelajaran sedikit banyak akan mengalami kendala. Apalagi melalui ektra kurikuler dan program sekolah pastinya tidak dapat dilakukan. Walaupun dengan teknologi yang canggih pasti tidak dapat seoptimal pembelajaran secara luring (pembelajaran tatap muka). Sebagiamana papar pakar pendidikan Universitas Brawijaya (UB) Aulia Luqman Azis bertepatan dengan Hardiknas 2020. “Selamanya profesi guru tidak akan tergantikan oleh teknologi” dalam laman resmi UB (2/05/2020).

Pendidikan karakter sejatinya lebih dominan menjadi tanggung jawab orang tua dan lingkungan, sekolah hanya sebagiannya saja membantu dalam penguatan karakter, yang dimasukan dalam pembelajaran maupun ektra kurikuler serta program sekolah. Waktu belajarnya pun terbatas di sekolah, lebih banyak dikeluarga dan lingkungan. Apalagi tenaga pendidik ada yang kurang cermat dan kurang peduli dalam penguatan karakter peserta didik. Makanya menurut hemat penulis bahwa ketika dalam Era New Normal Pandemi Covid-19 ini sejatinya mengembalikan sepenuhnya kepada orang tua dan lingkungan dalam pendidikan karakter generasi kita. Sebagaimana ungkapan dari sang bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara adalah “Setiap Orang Menjadi Guru, Setiap Rumah Menjadi Sekolah”.

Dari ungkapan Ki Hajar Dewantara tersebut setidaknya ada dua hal, Pertama, bahwa setiap anggota keluarga yang lebih dewasa dapat memerankan diri sebagai guru untuk mengajarkan pengetahuan, keterampilan, sikap sosial dan spiritual, keteladanan, asah, asih, dan asuh, saling menghargai, kedisplinan, tanggung jawab, dan lain-lain. Kedua, bahwa setiap rumah hendaknya menjadi tempat untuk berproses bersama anggota keluarga untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan spiritual yang akan membawa pendidikan karakter demi masa depan bangsa sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Takhroji Aji dalam tulisan yang berjudul “Pendidikan Karakter di Masa Pandemi, Menjadi Tanggung Jawab Siapa ?”,  dalam laman resmi BDKJakarta Kemenag RI (07/07/2020)

Pengetahuan, keterampilan, spiritual, sosial, karakter yang baik tidak serta merta harus mengandalkan ruang-ruang kelas melalui tenaga pendidik yang secara resmi mengajar disekolah, namun seyogyanya bisa diperoleh dan lebih dominan dari orang tua dan orang dewasa dirumah atau dilingkungan dimana bertempat tinggal (Community Based Education).

Dalam Al Qur’an telah dijelaskan tentang pendidikan Islam, seperti dalam Surah Lukman ayat 13 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan (Allah), sesunggunya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Pada ayat ini Allah SWT. Menekankan pendidikan karakter yang dilakukan orang tua dari rumah, karena pendidikan karakter sejatinya sudah dilakukan oleh orang tua sejak dikandungan, saat melahirkan, dan sejak sebelum mendapatkan pendidikan diluar rumah seperti sekolah atau madrasah. Dan ayat ini menegaskan bahwa orang tua sebagai guru pertamanya peserta didik yang ada dirumah, dan pastinya orang tua tidak akan mungkin mengajarkan hal-hal yang diluar perintah agama. Dan dalam ayat selanjutnya Allah menegaskan tentang prinsip-prinsip dasar pendidikan karakter yang sangat kuat yakni masalah iman, ibadah, sosial dan ilmu pengetahuan yang akan membentuk karakter seorang anak untuk menjadi bekal kehidupan masa depan anak tersebut.

Dalam hadits dan ungkapan para ulama-ulama kita juga sangat banyak terkait tentang penegasan untuk pendidikan karakter yang dilakukan oleh orang tua yakni “al umm madrasatil ula” (ibu adalah sekolah/madrasah pertama bagi anak-anaknya, “Kullu mauludin yuladu ala al-fitrah dst”. (setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, tergantung orang tuanya mau menjadikan majusi, nasrani atau yahudi), “Akrimu auladakum wa ahsinu adaabahum” (Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab/ahlaqnya), dan terkait untuk mengajarkan keterampilan Rosulullah Muhammad SAW. Bersabda “Allimu auladakum assibahah warrimayah”. (ajarilah anak-anakmu dengan berenang dan memanah), dan Rosul pun juga memerintahkan untuk rumah kita agar diterangi dengan Sholat dan bacaan Al Qur’an (Nawiru buyutakum bissholat wa tilawatil qur’an). Dan masih banyak lagi hadits maupun ungkapan para ulama, untuk memerintahkan dalam mendidik anak dan menjadikan rumah kita sebagai tempat muculnya peradaban dalam mengajarkan pendidikan karakter sebelum diluar rumah.

Banyaknya perintah dan anjuran yang ada dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW serta ungkapan para salafussholih, maka sudah sepatutnya rumah harus menjadi school of love atau baitii jannati. Rumah harus dijadikan tempat yang nyaman, enjoy, menyenangkan dan menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya anak. Orang tua sebagai role model mereka dirumah. Menurut Megawangi (2003) yang dikutip oleh Takhroji Aji (2020) beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak adalah 1) orang tua kurang menunjukkan kasih sayang mereka baik verbal maupun fisik, 2) kurang meluangkan waktu untuk anaknya, 3) bersikap kasar terhadap anak baik secara verbal maupun fisik, 4) memaksa anak untuk manjadi pintar  terlalu dini, 5) tidak menanamkan karakter yang baik dan kuat terhadap anaknya.

Pendidikan karakter di masa learn from home atau di era new normal pandemi covid-19 ini, menurut hemat penulis lebih dominan menjadi tanggung jawab orang tua dan lingkungan. Tentu tidak menafian peran guru dalam pembelajaran daring. Menurut penuturan Arifin (2003) bahwa pendidikan karakter menjadi tanggung jawab bersama, antara guru, orang tua, peserta didik dan lingkungan, agar dapat mewujudkan pembangunan pendidikan nasional yang didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya. Hanya saja peran orang tua dan lingkungan yang waktunya lebih banyak untuk anak apalagi dalam masa learn from home seperti ini, sudah semestinya untuk mengoptimalkan pendidikan karakter yang menjadi target pemerintah dalam kurikulum 2013.  Orang tua dan lingkungan sangat berperan dalam membentuk karakter anak, maka selamatkanlah anak-anak kita, jangan sampai SALAH ASUH DAN SALAH GAUL. Sehinngga kita akan menyesal selama-lamanya karena memiliki anak yang tidak dapat dibanggakan baik didunia maupun diakhirat. Naudzubillahi min dzalik. Wallohu a’lamu bisshowab.

Riswadi, M.Pd., merupakan Sekretaris Wilayah PW. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kalimantan Timur dan ASN pada IAIN Samarinda.



210 Total Views



Filed Under: OPINI








RISWADI

Orang biasa yang sedang belajar menulis dengan segala keterbatasan. Karena menulis adalah cara kita berbicara dengan zaman. Untuk bertukar pikiran, silahkan hubungi saya melalui halaman Kontak atau melalui Facebook, Twitter, Google+, Youtube, Flickr dan Instagram.




Comments


Belum ada komentar.






Leave a Reply


Your email address will not be published. Required fields are marked *


Rekomendasi Artikel

SURAT CINTA DARI TUHAN Antara Cinta, Takut dan Malu Kepada-Nya

Oleh: Riswadi (Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19) Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya Jatuh Cinta, dan cara mengungkapkan perasaan cinta kepada yang dikasihi pun juga beragam cara. Sebelum adanya teknologi ... [Baca Selengkapnya]

Silahkan daftarkan e-mail Anda untuk berlangganan artikel terbaru.